Agenda liburan hari ini
adalah menemani keluarga berkunjung ke Bintang Mode. Letaknya di jalan Sunu
Makassar. Berbagai keperluan rumah tangga tersedia di tempat tersebut. Terdapat
beragam peralatan elektronik, peralatan dapur, barang pecah belah, dan makanan
ringan serta kebutuhan lainnya. Terdapat pula arena game yang dapat menyebabkan
anak lupa waktu.
Tepatnya di hari Jumat
pagi, Makassar diguyur hujan deras. Namun, tak menyurutkan niat langkah kaki
mereka ke Bintang Mode. Waktu pun menunjukkan pukul 10.43 WITA. Keluarga baru
saja selesai mencuci pakaian dan mandi. Hujan belum juga menunjukkan
tanda-tanda akan berhenti hingga siap untuk berangkat. Saat sedang sibuk
menyiapkan segalanya, sang istri menyampaikan keinginannya. Dia ingin makan
sayur tattu. Sayur tattu merupakan jenis sayur yg bahannya terbuat dari daun
singkong, jantung pisang, dan santan kelapa tua. Pada umumnya orang Sulawesi
menamainya sayur tattu. Di luar Sulawesi entah apalah namanya.
Untuk memenuhi keinginan
sang istri, cukup dia saja yang menemani keluarga ke Bintang Mode. Tugasku
adalah keliling ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk
membuat sayur tattu. Akhirnya, berangkatlah dengan dua arah yang bebeda.
Saat tiba di pasar,
terlihat deretan pedagang sayur mayur. Singgahki, beli apa Pak? Sapaan para
pedagang untuk menarik perhatian pembeli. Setelah beberapa menit menyusuri stand
penjual sayur, tiba-tiba terlihat seorang ibu tua yang kulitnya mulai keriput.
Ia pun menyapaku. Singgahki nak, beli apaki? Sambil tersenyum. Ini bu, mau beli
daun singkong. O... Iya nak, ini kebetulan ada, daunnya masih segar nak, kata
si ibu tua itu. Percakapan pun berlangsung. Ini satu ikat berapa ya? Tanyaku.
Satu ikat lima ribu nak, jawabnya. O... Iya Bu, tolong dimasukkan di kantong
untuk sepuluh ribu ya Bu! Sang ibu penjual sayur itu memasukkan daun singkong
ke dalam kantong plastik berwarna hitam. Sambil kuulurkan uang sepuluh ribu,
sang ibu berkata terima kasih banyak ya nak. Sama-sama Bu, jawabku.
Daun singkong sudah ada.
Namun, ini belum lengkap untuk bahan pembuatan sayur tattu. Kini giliran
mencari penjual jantung pisang dan kelapa tua. Tidak jauh dari penjual daun
singkong, tiba-tiba terlihat penjual jantung pisang dan kelapa tua. Mengingat
ini hari Jumat, akupun langsung membelinya tanpa menawar harga. Syukur
Alhamdulillah, bahannya sudah lengkap. Kini saatnya pulang ke rumah. Saat tiba
di parkiran, tak lupa memeriksa barang belanjaan. Sungguh heran, di kantong
plastik warna hitam terdapat lima ikat daun singkong. Padahal uang yang aku
berikan ke ibu tua itu hanya sepuluh ribu. Sepuluh ribu berarti hanya dua ikat,
satu ikatkan lima ribu, pikirku. Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kaki
secepatnya ke tempat ibu tua penjual daun singkong itu.
Bu, ini dau singkongnya
berapa ya bu? Tanyaku untuk kedua kalinya. Iapun menjawab, lima ribu nak satu
ikat. O...tapi bu, ini di kantongku yang ibu masukkan tadi sebanyak lima ikat.
Seharusnya dua ikat saja bu. Ini ya bu kembalinya tiga ikat. Cukup dua untuk
harga sepuluh ribu. Tidak nak, kata anak saya ini lima ribu, tegas sang ibu tua
itu. Iya bu, ini terlalu banyak. Di rumah hanya berdua makan sayur. Kataku
untuk mengakhiri interaksi dengan penjual daun singkong itu.
Akhirnya dua ikat daun
singkong kubawa pulang tanpa memberinya penjelasan ulang ke ibu tua itu.
Sepertinya sulit untuk memahami bahasa yang kusampaikan. Daun singkong ini
akhirnya dapat mendeteksi kemampuan memahami bahasa dan perkalian sang ibu tua
itu, singkat pikiranku. Artinya seandainya sang ibu tua itu memahami bahasa dan
perkalian dengan baik, tentunya hal ini tidak terjadi. Inilah mungkin urgensi,
mengapa perkalian sangat penting untuk dipahami sejak dini. Bukan hanya sekadar
dihafal.
#Catatan
Harian Pak Guru
#GuruttaBaharuddinHeru
Baru
Belajar, Menulislah dengan hati...
Jumat,
3 Januari 2020, Tallo Rappokalling Makassar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar