BERCAK MERAH, TERTINGGAL di SUBUH HARI
Liburan
kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan. Bagaimana
tidak, di kalender Masehi sudah menunjukkan tanggal 2 Januari 2020, masih terus
diisi dengan bepergian dengan keluarga. Menikmati liburan yang jatahnya hanya
sepekan. Waktu yang cukup singkat buat yang berprofesi sebagai guru untuk
melepaskan penat menurut pandanganku. Tapi yah, sudahlah mau bagaimana lagi.
Ini keputusan dari pimpinan. Manfaatkan saja dengan maksimal waktu liburan
sepekan ini.
Sore
itu setelah menunaikan shalat Ashar, kugerakkan tangan sebelah kanan tuk raih gawaiku
yang terletak di atas meja ruang tamu. Perlahan kumainkan jemariku di atas
layar gawai. Membuka aplikasi grab untuk memesan mobil angkutan secara online.
Mengingat mobil yang tersedia tidak cukup memuat semua anggota keluarga yang
datang berlibur sehingga harus memesan grab (mobil angkutan online).
Perjalanan
sangat menyenangkan, diiringi dengan butiran bening yang nampak satu per satu
mengenai kaca mobil. Keluarga pun terlihat sangat menikmati perjalanan.
Diantaranya, ada yang menyanyi, ada yang fokus melihat tatanan bangunan di
pinggir jalan, dan ada pula yang fokus pada awan hitam di angkasa.
Beberapa
menit kemudian, tibalah di tempat tujuan. Salah satu Mall yang didirikan belum
lama ini, namanya Nipa Mall. Saat itu pula, kuperhatikan setiap sorotan mata anggota
keluargaku. Terlihat diantaranya ada yang terkesan sangat menakjubkan. Maklum, diantara
mereka ada yang baru kali pertama berkunjung ke kota Anging Mammiri, kota Daeng,
Makassar. Ibarat tawaf, kami lakukan bersama di lokasi tempat itu. Mengabadikan
setiap sudut yang penuh warna-warni dan pemandangan istimewanan indah. Beberapa
diantaranya mendatangi puncak tempat itu hingga menatap seluruh keindahan kota.
Termasuk gedung-gedung pencakar langit dapat disaksikan saat berada di puncak
tempat tersebut.
Photo
di android terbilang sudah cukup banyak, termasuk photo selfie yang penuh
dengan gaya. Suara azan pun sedang dikumandangkan. Akhirnya, memilih bergegas
ke mesjid tuk menunaikan shalat magrib sebelum melanjutkan petualangan.
Jam
sudah menunjukkan pukul 19.00. Si Khalil, jagoan pertamaku dan Khilal adiknya bersama
beberapa sepupunya tidak sabaran ingin berkunjung ke tempat permainan. Betis
pun mulai terasa berat. Namun seakan tak dihiraukan.
Setelah
beberapa jam menemani mereka, kami memutuskan balik ke rumah untuk istirahat.
Mengingat, esok masih ada beberapa agenda.Tiba di rumah, waktu sudah menunjukkan
pukul 22.00. Ini adalah waktu tidurku di rumah seperti biasanya. Sebelum
beranjak ke tempat tidur, terlebih dahulu menikmati martabak hangat yang dibeli
di perjalanan. Nyam...nyam...nyam...nikmat dan lezat.
Akhirnya,
semua beranjak ke tempat tidur. Lelah baru terasa. Ku ingatkan kedua jagoanku
cuci kedua kaki sebelum tidur. Sambil menidurkan keduanya, kupijat pula betis
bidadariku dengan perlahan dan penuh kelembutan. Pastinya, ibu dari kedua
anakku sangat lelah. Ditambah lagi dia sedang hamil tua, mengandung anak
ketigaku. Butuh dimanja, butuh dimengerti, dan butuh segalanya, ehem.
Maa...ini
malam apa ya? Tanyaku. Bena-benar lupa, mungkin karena lelah. Diapun menjawab,
ini malam Jumat Paa.... Kenapa Paa.... Tanya balik. O... Iya, lupa kalau besok
deadline laporan harus tuntas. Akhirnya, kuputuskan membuka laptop tuk
rampungkan laporan yang belum kelar. Jangan terlalu lama ya Pa.. begadangnya.
Pesan si dia. Perhatian permaisuri sungguh mendamaikan hati. Sambil mengetik,
sesekali kupandang permaisuriku. Saat kedua kelopak matanya menutup, terlintas
doaku, semoga dirimu kelak menjadi penghuni surga. Amiin.
Ketukan
jemariku di tuts keyboard semakin lambat hingga tak sadarkan diri terlelap di
depan laptop. Azan subuh pun tak terdengar dari menara mesjid. Bukan tak
dikumandangkan, tapi karena lelah membuat ketiduran. Kembali kupandang permaisuriku,
ternyata disana hanya ada selimut. Jam pun sudah menunjukkan pukul 05.30. Ini
adalah separuh dosa besar tanpa niat untuk melakukannya. Akhirnya aku berlari, mensucikan
diri lalu tunaikan shalat yang sudah sangat telat (jangan dicontoh). Usai
shalat, kembali kupandang istriku yang sedang membaca Al-Qur'an di kursi ruang
tamu. Akupun melangkah, tiba-tiba kaki terbentur pada setrika bekas yang ada di dekat
pintu. Aduuuu...sakit. Bercak merah pun menetes di ibu jari kaki hingga
darahnya membekas di sajadah. Dalam benakku, ini semua karena tertinggal
subuh, shalat tidak tepat waktu. Semoga tidak terulang lagi.
#Salam Literasi Indonesia
#serbaserbi liburan
#GuruttaBaharuddinHeru
Menulislah dengan hati...
3 Januari 2020, Rappokalling Makassar
Bersama Mamaku, Saudara, & Kemanakan
di NIPA MALL kota Anging Mammiri, Makassar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar