Sabtu, 04 Januari 2020

DAUN SINGKONG, DETEKSI BAHASA & PERKALIAN

Agenda liburan hari ini adalah menemani keluarga berkunjung ke Bintang Mode. Letaknya di jalan Sunu Makassar. Berbagai keperluan rumah tangga tersedia di tempat tersebut. Terdapat beragam peralatan elektronik, peralatan dapur, barang pecah belah, dan makanan ringan serta kebutuhan lainnya. Terdapat pula arena game yang dapat menyebabkan anak lupa waktu.

Tepatnya di hari Jumat pagi, Makassar diguyur hujan deras. Namun, tak menyurutkan niat langkah kaki mereka ke Bintang Mode. Waktu pun menunjukkan pukul 10.43 WITA. Keluarga baru saja selesai mencuci pakaian dan mandi. Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti hingga siap untuk berangkat. Saat sedang sibuk menyiapkan segalanya, sang istri menyampaikan keinginannya. Dia ingin makan sayur tattu. Sayur tattu merupakan jenis sayur yg bahannya terbuat dari daun singkong, jantung pisang, dan santan kelapa tua. Pada umumnya orang Sulawesi menamainya sayur tattu. Di luar Sulawesi entah apalah namanya.

Untuk memenuhi keinginan sang istri, cukup dia saja yang menemani keluarga ke Bintang Mode. Tugasku adalah keliling ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sayur tattu. Akhirnya, berangkatlah dengan dua arah yang bebeda.

Saat tiba di pasar, terlihat deretan pedagang sayur mayur. Singgahki, beli apa Pak? Sapaan para pedagang untuk menarik perhatian pembeli. Setelah beberapa menit menyusuri stand penjual sayur, tiba-tiba terlihat seorang ibu tua yang kulitnya mulai keriput. Ia pun menyapaku. Singgahki nak, beli apaki? Sambil tersenyum. Ini bu, mau beli daun singkong. O... Iya nak, ini kebetulan ada, daunnya masih segar nak, kata si ibu tua itu. Percakapan pun berlangsung. Ini satu ikat berapa ya? Tanyaku. Satu ikat lima ribu nak, jawabnya. O... Iya Bu, tolong dimasukkan di kantong untuk sepuluh ribu ya Bu! Sang ibu penjual sayur itu memasukkan daun singkong ke dalam kantong plastik berwarna hitam. Sambil kuulurkan uang sepuluh ribu, sang ibu berkata terima kasih banyak ya nak. Sama-sama Bu, jawabku.

Daun singkong sudah ada. Namun, ini belum lengkap untuk bahan pembuatan sayur tattu. Kini giliran mencari penjual jantung pisang dan kelapa tua. Tidak jauh dari penjual daun singkong, tiba-tiba terlihat penjual jantung pisang dan kelapa tua. Mengingat ini hari Jumat, akupun langsung membelinya tanpa menawar harga. Syukur Alhamdulillah, bahannya sudah lengkap. Kini saatnya pulang ke rumah. Saat tiba di parkiran, tak lupa memeriksa barang belanjaan. Sungguh heran, di kantong plastik warna hitam terdapat lima ikat daun singkong. Padahal uang yang aku berikan ke ibu tua itu hanya sepuluh ribu. Sepuluh ribu berarti hanya dua ikat, satu ikatkan lima ribu, pikirku. Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kaki secepatnya ke tempat ibu tua penjual daun singkong itu.

Bu, ini dau singkongnya berapa ya bu? Tanyaku untuk kedua kalinya. Iapun menjawab, lima ribu nak satu ikat. O...tapi bu, ini di kantongku yang ibu masukkan tadi sebanyak lima ikat. Seharusnya dua ikat saja bu. Ini ya bu kembalinya tiga ikat. Cukup dua untuk harga sepuluh ribu. Tidak nak, kata anak saya ini lima ribu, tegas sang ibu tua itu. Iya bu, ini terlalu banyak. Di rumah hanya berdua makan sayur. Kataku untuk mengakhiri interaksi dengan penjual daun singkong itu.

Akhirnya dua ikat daun singkong kubawa pulang tanpa memberinya penjelasan ulang ke ibu tua itu. Sepertinya sulit untuk memahami bahasa yang kusampaikan. Daun singkong ini akhirnya dapat mendeteksi kemampuan memahami bahasa dan perkalian sang ibu tua itu, singkat pikiranku. Artinya seandainya sang ibu tua itu memahami bahasa dan perkalian dengan baik, tentunya hal ini tidak terjadi. Inilah mungkin urgensi, mengapa perkalian sangat penting untuk dipahami sejak dini. Bukan hanya sekadar dihafal.

#Catatan Harian Pak Guru
#GuruttaBaharuddinHeru
Baru Belajar, Menulislah dengan hati...

Jumat, 3 Januari 2020, Tallo Rappokalling Makassar

Kamis, 02 Januari 2020

BERCAK MERAH, TERTINGGAL di SUBUH HARI

BERCAK MERAH, TERTINGGAL di SUBUH HARI

Liburan kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan. Bagaimana tidak, di kalender Masehi sudah menunjukkan tanggal 2 Januari 2020, masih terus diisi dengan bepergian dengan keluarga. Menikmati liburan yang jatahnya hanya sepekan. Waktu yang cukup singkat buat yang berprofesi sebagai guru untuk melepaskan penat menurut pandanganku. Tapi yah, sudahlah mau bagaimana lagi. Ini keputusan dari pimpinan. Manfaatkan saja dengan maksimal waktu liburan sepekan ini. 

Sore itu setelah menunaikan shalat Ashar, kugerakkan tangan sebelah kanan tuk raih gawaiku yang terletak di atas meja ruang tamu. Perlahan kumainkan jemariku di atas layar gawai. Membuka aplikasi grab untuk memesan mobil angkutan secara online. Mengingat mobil yang tersedia tidak cukup memuat semua anggota keluarga yang datang berlibur sehingga harus memesan grab (mobil angkutan online).
Perjalanan sangat menyenangkan, diiringi dengan butiran bening yang nampak satu per satu mengenai kaca mobil. Keluarga pun terlihat sangat menikmati perjalanan. Diantaranya, ada yang menyanyi, ada yang fokus melihat tatanan bangunan di pinggir jalan, dan ada pula yang fokus pada awan hitam di angkasa. 

Beberapa menit kemudian, tibalah di tempat tujuan. Salah satu Mall yang didirikan belum lama ini, namanya Nipa Mall. Saat itu pula, kuperhatikan setiap sorotan mata anggota keluargaku. Terlihat diantaranya ada yang terkesan sangat menakjubkan. Maklum, diantara mereka ada yang baru kali pertama berkunjung ke kota Anging Mammiri, kota Daeng, Makassar. Ibarat tawaf, kami lakukan bersama di lokasi tempat itu. Mengabadikan setiap sudut yang penuh warna-warni dan pemandangan istimewanan indah. Beberapa diantaranya mendatangi puncak tempat itu hingga menatap seluruh keindahan kota. Termasuk gedung-gedung pencakar langit dapat disaksikan saat berada di puncak tempat tersebut. 

Photo di android terbilang sudah cukup banyak, termasuk photo selfie yang penuh dengan gaya. Suara azan pun sedang dikumandangkan. Akhirnya, memilih bergegas ke mesjid tuk menunaikan shalat magrib sebelum melanjutkan petualangan.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Si Khalil, jagoan pertamaku dan Khilal adiknya bersama beberapa sepupunya tidak sabaran ingin berkunjung ke tempat permainan. Betis pun mulai terasa berat. Namun seakan tak dihiraukan. 

Setelah beberapa jam menemani mereka, kami memutuskan balik ke rumah untuk istirahat. Mengingat, esok masih ada beberapa agenda.Tiba di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Ini adalah waktu tidurku di rumah seperti biasanya. Sebelum beranjak ke tempat tidur, terlebih dahulu menikmati martabak hangat yang dibeli di perjalanan. Nyam...nyam...nyam...nikmat dan lezat. 

Akhirnya, semua beranjak ke tempat tidur. Lelah baru terasa. Ku ingatkan kedua jagoanku cuci kedua kaki sebelum tidur. Sambil menidurkan keduanya, kupijat pula betis bidadariku dengan perlahan dan penuh kelembutan. Pastinya, ibu dari kedua anakku sangat lelah. Ditambah lagi dia sedang hamil tua, mengandung anak ketigaku. Butuh dimanja, butuh dimengerti, dan butuh segalanya, ehem. 

Maa...ini malam apa ya? Tanyaku. Bena-benar lupa, mungkin karena lelah. Diapun menjawab, ini malam Jumat Paa.... Kenapa Paa.... Tanya balik. O... Iya, lupa kalau besok deadline laporan harus tuntas. Akhirnya, kuputuskan membuka laptop tuk rampungkan laporan yang belum kelar. Jangan terlalu lama ya Pa.. begadangnya. Pesan si dia. Perhatian permaisuri sungguh mendamaikan hati. Sambil mengetik, sesekali kupandang permaisuriku. Saat kedua kelopak matanya menutup, terlintas doaku, semoga dirimu kelak menjadi penghuni surga. Amiin. 

Ketukan jemariku di tuts keyboard semakin lambat hingga tak sadarkan diri terlelap di depan laptop. Azan subuh pun tak terdengar dari menara mesjid. Bukan tak dikumandangkan, tapi karena lelah membuat ketiduran. Kembali kupandang permaisuriku, ternyata disana hanya ada selimut. Jam pun sudah menunjukkan pukul 05.30. Ini adalah separuh dosa besar tanpa niat untuk melakukannya. Akhirnya aku berlari, mensucikan diri lalu tunaikan shalat yang sudah sangat telat (jangan dicontoh). Usai shalat, kembali kupandang istriku yang sedang membaca Al-Qur'an di kursi ruang tamu. Akupun melangkah, tiba-tiba kaki  terbentur pada setrika bekas yang ada di dekat pintu. Aduuuu...sakit. Bercak merah pun menetes di ibu jari kaki hingga darahnya membekas di sajadah. Dalam benakku, ini semua karena tertinggal subuh, shalat tidak tepat waktu. Semoga tidak terulang lagi. 

#Salam Literasi Indonesia
#serbaserbi liburan
#GuruttaBaharuddinHeru
Menulislah dengan hati...
3 Januari 2020, Rappokalling Makassar

Bersama Mamaku, Saudara, & Kemanakan
di NIPA MALL kota Anging Mammiri, Makassar