KUMPULAN KARYA GURU
Jumat, 12 November 2021
Jumat, 17 September 2021
Sabtu, 31 Juli 2021
Selasa, 27 April 2021
KESIMPULAN & REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA
KONEKSI ANTAR MATERI – KESIMPULAN & REFLEKSI PEMIKIRAN
KI HADJAR DEWANTARA
Sumber Gambar: compasiana.com (mochzakym19 on Pinterest)
Berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara,
Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Hal ini
berarti peran Pendidikan adalah menuntun dan mengarahkan atas potensi yang
telah dimiliki anak. Bukan suatu pemaksaan sesuai kehendak pendidik. Dalam
mendidik anak, maka harus dituntun sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.
Kodrat alam dalam hal ini merupakan proses mendidik anak dengan memperhatikan
potensi yang melekat pada diri anak yang dibawa sejak lahir. Potensi tersebut
tentunya bervariasi dan memiliki keunikan masing-masing. Sedangkan kodrat zaman
merupakan proses mendidik dengan menyesuaikan perkembanmgan saat ini sebagai
bentuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan Pendidikan abad 21 yang semakin
kompleks. Hal ini sangat erat kaitannya dengan salah satu filosofis pemikiran
Ki Hadjar Dewantara yaitu perubahan sehingga anak perlu dididik sesuai
perkembangan zaman.
Ki Hadajar Dewantara memandang bahwa proses
mendidik yang baik adalah pengajaran yang menghamba pada anak. Menghmaba pada
anak dalam hal ini adalah sikap pendidik terhadap anak. Memperlakukan dengan
baik, menghargai setiap anak tanpa melihat kekurangan sehingga pendidikan itu
benar-benar berlangsung secara kekeluargaan.
Melalui konsep pemikiran Ki Hadjar
Dewantara, banyak hal yang mengubah cara pandang sebagai pendidik. Salah
satunya adalah menciptkakan proses pembelajaran yang membahagiakan anak dengan
mengintegrasikan budaya lokal, misalnya permainan. Permainan dalam proses
pembelajaran merupakan salah satu cara yang sangat perlu diterapkan di kelas
atau di sekolah. Selain itu, dalam mendidik sangat perlu memeri ruang kebebasan
pada anak agar tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Ki Hadjar Dewantara juga sangat menekankan
adanya penumbuhan budi pekerti. Budi pekerti ini merupakan perpaduan antara
cipta, karsa, dan karya anak. Dalam menumbuhkan budi pekerti, maka perlu adanya
pembiasaan dalam pembelajaran seperti yang diterapkan di sekolah diantaranya
budaya 5 S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), budaya sipakatabe, budaya
buang sampah dan pengelolaan sampah sekolah, serta proses pembelajaran
interkasi dengan lingkungan di luar kelas (field trip).
Setelah memahami konsep pemikiran Ki Hadjar
Dewantara, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah tindakan implementasi
di kelas atau di sekolah masing-masing agar dapat melahirkan generasi-generasi
beradab dan generasi yang siap menghadapi tantangan saat ini dan masa
mendatang. Dalam mengimplementasikan konsep tersebut maka satu hal yang perlu
ditakankan yaitu tugas pendidik sesuai slogan Ki Hadjar Dewantara adalah ing
ngarso ung tulodho, ing madyo mangun karsi, tutu wuri handayani yang
berarti di depan menjadi teladan, di tengah membangun kemauan dan di belakang
memberi motivasi.
Apa yang saya percaya tentang murid dan
pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?
Satu hal yang saya yakini dan saya jadikan
prinsip dalam mendidik adalah adanya kepercayaan bahwa anak itu ibarat kertas
kosong dan ibarat botol kosong yang harus didiamkan untuk diisi air. Ternyata
anggapan tersebut kurang tepat, karena anak pada dasarnya telah memiliki
sesuatu hal yakni potensi atau bakat yang tinggal siap diarahkan atau dituntun.
Apa yang berubah dari pemikiran atau
perilaku saya setelah mempelajari modul ini?
Hal yang berubah adalah cara pandang saya
terhadap siswa dan strategi pembelajaran yang saya berikan. Melalui pemahaman
pada modul tersebut, maka saya menempatkan diri saya sebagai pengarah atau
penuntun bagi peserta didik serta memberikan ruang kebebasan pada anak sesuai
potensi yang dimiliki. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh dan berkembang
sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.
Apa yang bisa segera saya terapkan lebih
baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?
Hal pertama yang segera saya terapkan
adalah mendesain permainan tradisional di ruang kelas yang dapat memberikan
rasa nyaman dan keceriaan serta dapat mengedukasi anak. Selain itu menciptakan
suasana kelas yang dapat membahagiakan perasaan dan menerapakan pembelajaran di
luar kelas namun tetap berada di wiulayah sekolah.
Demikian kesimpulan dan refleksi pemikiran
Ki Hadjar Dewantara




