MEMBANGUN SUASANA MENYENANGKAN
KIAT MENJADI GURU FAVORIT
Siapa saja pasti akan merasa senang
bila berada dalam suasana yang menyenangkan. Orang yang pandai membangun
suasana yang menyenangkan dalam sebuah hubungan, juga pasti akan disenangi oleh
banyak orang. Demikian pula dengan guru hendaknya pandai membawa suasana yang
menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Dalam banyak kesempatan, saya sering
mengamati bahwa ternyata guru favorit atau yang banyak disenangi oleh
murid-murid adalah seorang guru yang menyenangkan. Seorang guru yang
menyenangkan adalah seseorang yang mempunyai kepribadian sebagai berikut:
a.
Memahami Kebutuhan Anak Didik
Guru yang
dicintai oleh murid-muridnya adalah yang bisa memahami kebutuhan anak didiknya
dengan baik. Orang yang demikian biasanya senantiasa mengedepankan dialog atau
keterbukaan. Dalam hal ini, ia berusaha untuk bisa mendengarkan apa yang
menjadi kebutuhan anak didiknya berikut alasan atau sebab-sebabnya. Dengan
demikian, ia bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan anak didiknya. Sebaliknya,
guru yang tidak bisa memahami kebutuhan anak didiknya biasanya bersikap kaku
dan tak mengenal kompromi. Ia merasa sebagai orang paling dewasa dari seluruh
anak didiknya dan oleh karenanya harus selalu diikuti keinginan, pendapat, dan
perintahnya. Guru yang semacam ini akan cenderung menjadi otoriter dan sudah
barang tentu tidak disenangi oleh anak didiknya. Sebab, sudah menjadi sifat
dasar setiap manusia akan merasa senang jika didengar dan dipahami
kebutuhannya. Dalam proses belajar mengajar memang sudah ada kurikulum yang
menjadi panduan seorang guru dalam memberikan materi. Mengenai kurikulum dan
materi pelajaran ini memang sudah seharusnya menjadi panduan yang mesti diikuti.
Akan tetapi, dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan komunikasi dan cara
seorang guru menyampaikan materi pelajaran sangat dibutuhkan kemampuannya
memahami anak didik secara langsung. Di sinilah dibutuhkan seorang guru yang
mempunyai perhatian kepada anak didiknya bahwa mereka juga anak manusia yang
mempunyai perasaan yang butuh dipahami. Bila hal ini dilakukan dengan baik,
maka seorang guru akan dicintai oleh murid-muridnya.
b.
Memberikan Penghargaan
Seorang
guru yang dicintai oleh murid-muridnya adalah yang bisa memberikan penghargaan
kepada murid-muridnya. Penghargaan yang dimaksudkan di sini tidak harus
bermakna penghargaan yang berupa materi atau pemberian hadiah berupa barang.
Penghargaan juga bisa diberikan hanya dengan kata-kata yang bermakna positif
dan menyenangkan. Misalnya, pada saat seorang anak didik berhasil menyelesaikan
pekerjaannya, seorang guru berkomentar, "Bagus sekali, ternyata kamu bisa
menyelesaikannya dengan baik." Sudah tentu, sang anak akan merasa senang
karena apa yang telah dilakukannya mendapatkan penghargaan dari gurunya. Sebaliknya,
apabila seorang anak didik telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang
guru berkomentar sebaliknya, "Mengerjakan begitu saja lama sekali, padahal
ini sebenarnya sangat mudah." Mendengar komentar dari sang guru, sudah tentu
murid yang dimaksud tidak merasakan senang di hati meskipun ia telah berhasil
menyelesaikan pekerjaannya. Pembaca yang budiman, memberikan penghargaan
sebagaimana tersebut sesungguhnya tidak sulit untuk dilakukan. Tidak membutuhkan
biaya, namun yang dibutuhkan hanya ketulusan dari hati yang bersih untuk
melakukannya. Oleh karena itu, sebagai guru yang ingin berhasil dalam
melaksanakan tugas dan mengemban tanggung jawab yang mulia, sudah tentu akan
berusaha untuk bisa memberikan penghargaan kepada anak didiknya.
c.
Dapat Mengontrol Emosi dengan Baik
Menjadi
seorang guru tidak selalu menghadapi murid-murid yang baik, penurut, anteng,
atau tidak pernah iseng. Ada saja dari murid-murid yang justru sikapnya bisa
memancing kemarahan gurunya. Maka, guru yang tidak bisa mengontrol emosinya
dengan baik, dia terpancing untuk memarahi anak didiknya. Apalagi bila sebelum
berangkat untuk mengajar ia sudah ada ketidaknyamanan atau masalah dari
rumahnya, seorang guru bisa mememberikan hukuman yang bahkan melebihi dari
perbuatan muridnya yang dianggap salah oleh guru tersebut.
Berbeda
dengan seorang guru yang bisa mengontrol emosinya dengan baik. Jika ada di
antara muridnya yang melakukan perbuatan yang melanggar dari aturan sekolah
atau kepatutan yang sedang berlaku, ia mencoba untuk memahami mengapa anak
tersebut melakukan perbuatan itu. Sang guru akan dengan lembut memanggil anak
tersebut lantas menanyainya dengan baik-baik. Dalam banyak kasus, justru
perhatian seorang guru yang bertanya dengan baik-baik kepada anak yang
bermasalah menjadikan mereka berhenti dari perbuatan tidak baiknya. Mengedepankan
sikap yang lembut jauh lebih bermanfaat daripada memberikan reaksi spontan dan
kemarahan kepada anak didik yang melakukan kesalahan. Anak-anak yang didekati
dengan kemarahan biasanya akan sulit benar-benar berhenti dari perbuatan tidak
baiknya. Jika memang berhenti, biasanya tidak berangkat dari kesadarannya,
melainkan karena dimarahi oleh gurunya. Berbeda sekali dengan anak yang diajak
berbicara baik-baik, ia merasakan ada perhatian dari gurunya. Padahal, sudah
menjadi sifat dasar setiap manusia jika diperhatikan akan merasa senang
hatinya. Di sinilah sesungguhnya menjadi penting bagi seorang guru untuk dapat
mengontrol emosi dengan baik agar para muridnya merasa senang, sehingga proses
belajar mengajar pun dapat berjalan dengan baik.
d.
Tidak Menjaga Jarak dengan Anak Didik
Guru yang
dicintai oleh anak didik adalah guru yang tidak menjaga jarak dengan mereka.
Tidak menjaga jarak yang dimaksudkan di sini adalah sengaja mendekatkan diri
dengan anak didiknya untuk membangun keakraban. Sebab, tidak sedikit guru yang
dengan alasan menjaga wibawa maka tidak mau dekat-dekat dengan anak didiknya.
Atau, kalau dalam istilah sekarang, guru yang "jaim" (jaga image). Meskipun
tidak menjaga jarak adalah hal penting agar seorang guru dicintai
murid-muridnya, bukan berarti seorang guru bergaul seakan tanpa batas dengan
murid-muridnya. Misalnya, bergurau bersama dengan murid-murid sampai kelewat
batas norma dan nilai yang berlaku, berdekatan secara fisik dengan anak didik
yang berbeda jenis kelamin, atau saking dekatnya sehingga apa saja diceritakan
kepada murid-murid, termasuk hal-hal yang semestinya adalah privasi. Tidak
menjaga jarak dengan anak didik bukan berarti seorang guru tidak profesional
lagi dalam proses belajar mengajar. Dalam urusan yang satu ini, guru memang
harus tetap tampil sebagai seorang yang mengelola proses belajar mengajar
bersama murid-muridnya. Meskipun pengelola dalam proses belajar di kelas atau
bahkan di luar kelas, seorang guru yang dicintai anak didiknya biasanya tetap
bersahaja, tidak angkuh, atau merasa paling pintar sendiri. Ia mempunyai
kepribadian yang terbuka, bisa menerima saran, atau bahkan kritik. Seorang guru
yang demikian biasanya pula tidak pelit untuk mengucapkan mohon maaf dan terima
kasih kepada anak didiknya.
Inilah
beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai seorang guru agar dapat disenangi dan
disegani oleh siswa sehingga dapat menciptakan proses belajar mengajar yang berkualitas
dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar