Selasa, 27 April 2021

KESIMPULAN & REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

 KONEKSI ANTAR MATERI – KESIMPULAN & REFLEKSI PEMIKIRAN

KI HADJAR DEWANTARA

 


Sumber Gambar: compasiana.com (mochzakym19 on Pinterest)

Berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Hal ini berarti peran Pendidikan adalah menuntun dan mengarahkan atas potensi yang telah dimiliki anak. Bukan suatu pemaksaan sesuai kehendak pendidik. Dalam mendidik anak, maka harus dituntun sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Kodrat alam dalam hal ini merupakan proses mendidik anak dengan memperhatikan potensi yang melekat pada diri anak yang dibawa sejak lahir. Potensi tersebut tentunya bervariasi dan memiliki keunikan masing-masing. Sedangkan kodrat zaman merupakan proses mendidik dengan menyesuaikan perkembanmgan saat ini sebagai bentuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan Pendidikan abad 21 yang semakin kompleks. Hal ini sangat erat kaitannya dengan salah satu filosofis pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu perubahan sehingga anak perlu dididik sesuai perkembangan zaman.

Ki Hadajar Dewantara memandang bahwa proses mendidik yang baik adalah pengajaran yang menghamba pada anak. Menghmaba pada anak dalam hal ini adalah sikap pendidik terhadap anak. Memperlakukan dengan baik, menghargai setiap anak tanpa melihat kekurangan sehingga pendidikan itu benar-benar berlangsung secara kekeluargaan.

Melalui konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, banyak hal yang mengubah cara pandang sebagai pendidik. Salah satunya adalah menciptkakan proses pembelajaran yang membahagiakan anak dengan mengintegrasikan budaya lokal, misalnya permainan. Permainan dalam proses pembelajaran merupakan salah satu cara yang sangat perlu diterapkan di kelas atau di sekolah. Selain itu, dalam mendidik sangat perlu memeri ruang kebebasan pada anak agar tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki.

Ki Hadjar Dewantara juga sangat menekankan adanya penumbuhan budi pekerti. Budi pekerti ini merupakan perpaduan antara cipta, karsa, dan karya anak. Dalam menumbuhkan budi pekerti, maka perlu adanya pembiasaan dalam pembelajaran seperti yang diterapkan di sekolah diantaranya budaya 5 S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), budaya sipakatabe, budaya buang sampah dan pengelolaan sampah sekolah, serta proses pembelajaran interkasi dengan lingkungan di luar kelas (field trip).

Setelah memahami konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah tindakan implementasi di kelas atau di sekolah masing-masing agar dapat melahirkan generasi-generasi beradab dan generasi yang siap menghadapi tantangan saat ini dan masa mendatang. Dalam mengimplementasikan konsep tersebut maka satu hal yang perlu ditakankan yaitu tugas pendidik sesuai slogan Ki Hadjar Dewantara adalah ing ngarso ung tulodho, ing madyo mangun karsi, tutu wuri handayani yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah membangun kemauan dan di belakang memberi motivasi.

Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

Satu hal yang saya yakini dan saya jadikan prinsip dalam mendidik adalah adanya kepercayaan bahwa anak itu ibarat kertas kosong dan ibarat botol kosong yang harus didiamkan untuk diisi air. Ternyata anggapan tersebut kurang tepat, karena anak pada dasarnya telah memiliki sesuatu hal yakni potensi atau bakat yang tinggal siap diarahkan atau dituntun.

Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?

Hal yang berubah adalah cara pandang saya terhadap siswa dan strategi pembelajaran yang saya berikan. Melalui pemahaman pada modul tersebut, maka saya menempatkan diri saya sebagai pengarah atau penuntun bagi peserta didik serta memberikan ruang kebebasan pada anak sesuai potensi yang dimiliki. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

Hal pertama yang segera saya terapkan adalah mendesain permainan tradisional di ruang kelas yang dapat memberikan rasa nyaman dan keceriaan serta dapat mengedukasi anak. Selain itu menciptakan suasana kelas yang dapat membahagiakan perasaan dan menerapakan pembelajaran di luar kelas namun tetap berada di wiulayah sekolah.

Demikian kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara